MASIGNALPHAS2101
6912188479656223598

Pentingnya Mitigasi Bencana bagi Guru di Indonesia

Pentingnya Mitigasi Bencana bagi Guru di Indonesia
Add Comments
Sabtu, 22 Februari 2020
Sumber: Kompas dot Com Website

Pada hari Jumat (21/2/2020) terjadi musibah yang mengejutkan di Yogyakarta yaitu ada beberapa siswa SMPN 1 Turi Sleman yang tewas saat susur sungai. Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan peristiwa hanyutnya siswa SMPN 1 Turi Sleman yang terjadi di Sungai Sempor merupakan kecerobohan pihak sekolah sebab kegiatan susur sungai dilakukan saat musim hujan. Hal ini dianggap kecerobohan karena melaksanakan kegiatan-kegiatan di sungai pada saat musim hujan itu sangat berbahaya menurut beliau.
Sumber: Kompas dot Com Website


Potensi Bencana di Indonesia

Kita akan melihat potensi bencana di Indonesia. Secara geografis, geologis, dan demografis Indonesia dikenal sebagai laboratorium bencana. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Bab 1, tentang ketentuan umum, pasal 1, dimana jenis-jenis bencana dapat dikelompokkan menjadi bencana alam, antara lain (1) gempa bumi, (2) tsunami, (3) gunung meletus, (4) banjir, (5) kekeringan, (6) angin topan, (7) tanah longsor. Sedangkan bencana non alam, seperti (8) gagal teknologi, (9) gagal modernisasi, (10) epidemi, (11) wabah penyakit, dan bencana sosial (12) konfliik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, (13) teror. Dari jenis-jenis bencana tersebut, terdapat enam bencana yang paling mengancam daerah-daerah di Indonesia yakni gempa bumi, kebakaran gedung, tsunami, banjir dan banjir bandang, tanah longsor, serta letusan gunung api [1]. Banjir dan banjir bandang termasuk dalam enam besar bencana yang paling mengancam di di Indonesia.

Banjir Bandang

Kejadian di Sungai Sempor ini dapat didefinisikan sebagai banjir bandang. Banjir bandang didefinisikan sebagai aliran air dalam jumlah besar yang mengalir dari hulu sungai (sebagai pengirim) ke hilir (sebagai penerima) dengan kecepatan yang tinggi. Banjir bandang ini merupakan banjir yang terjadi secara tiba-tiba pada wilayah dataran rendah yang dipicu oleh curah hujan hujan tinggi atau ketika terdapat bendungan alam/buatan yang jebol. Kondisi ini terjadi jika tanah menjadi sangat jenuh dengan air yang menyebabkan volume air yang besar tidak dapat diserap ke dalam tanah, sehingga menyebabkan terjadinya luapan air dengan cepat pada sisi tebing yang akan menyapu berbagai macam material yang terdapat sepanjang daerah aliran. Banjir bandang biasanya terjadi secara tiba-tiba sehingga sangat membahayakan [2].
Banjir bandang dapat dibedakan karakteristiknya dengan banjir pada umumnya yaitu kecepatan arus air, waktu genangan air yang relatif cepat hilang yaitu kurang dari 6 jam dengan viskositas aliran tinggi yang membawa material lumpur, kerikil batu dan pepohonan serta apa saja yang disapunya dalam perjalanan air dari hulu ke hilir, serta wilayah terdampak relatif lebih sempit dari banjir biasa [2].
Banjir bandang biasanya terjadi pada aliran sungai yang kemiringan dasar sungai curam. Aliran banjir yang tinggi dan sangat cepat dan limpasannya dapat membawa batu besar atau bongkahan dan pepohonan serta merusak atau menghanyutkan apa saja yang dilewati namun cepat surut kembali [2].

Tahapan dalam Manajemen Bencana

Dalam ilmu manajemen bencana dikenal 4 (empat) tahap/bidang penanggulangan bencana yaitu 1) proses pencegahan dan mitigasi; 2) kesiapsiagaan; 3) tanggap darurat; dan 4) rehabilitasi serta rekonstruksi 3. Tahap 1 adalah pencegahan dan mitigasi bencana. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi serta menanggulangi resiko bencana yang akan muncul. Upaya yang dapat dilakukan meliputi perbaikan dan modifikasi lingkungan baik secara fisik maupun penyadaran serta peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana[3]. Tahap 2 adalah tahap kesiapsiagaan. Pada tahap kesiapsiagaan ini, biasanya menunjukkan adanya tanda atau signal bahwa bencana akan segera terjadi. Pada tahap kesiapsiagaan ini maka seluruh elemen terutama masyarakat perlu memiliki kesiapan dan kesiagaan untuk menghadapi bencana. Tahap 3 adalah tahap tanggap darurat dimana saat kejadian bencana terjadi.  Pada tahap ini pencarian dan penyelamatan (search and rescue) serta rencana evakuasi dilakukan. Tujuan dari tahap tanggap darurat ini adalah meminimalkan korban jiwa, gangguan layanan, dan kerusakan saat bencana. Tahap 4 adalah tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi yang biasanya  dilakukan setelah tahap tanggap darurat (setelah terjadinya bencana) [3].

Mitigasi Bencana dan Pentingnya Mitigasi Bencana

Pencegahan dan mitigasi bencana dapat dilakukan secara struktural dan non struktural (kultural). Upaya yang dilakukan secara struktural untuk mengurangi kerentanan (vulnerability) terhadap bencana misalnya adalah rekayasa secara teknis untuk bangunan agar tahan bencana. Sedangkan, upaya secara kultural untuk mengurangi kerentanan (vulnerability) terhadap sebuah bencana misalnya dengan mengubah paradigma, meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude) sehingga terbangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Mitigasi secara kultural termasuk di dalamnya adalah membuat masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan untuk meminimalkan terjadinya bencana[3]. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa mitigasi memiliki peranan yang penting karena membangun public awareness (kesadaran publik) terhadap apa yang terjadi di lingkungan agar dapat meminimalkan terjadinya event (bencana) atau dapat meminimalkan kerusakan baik secara korban jiwa maupun materiil saat terjadi bencana.

Kesadaran (awareness) terhadap lingkungan ini yang mungkin belum dilatih dengan baik oleh guru pembina Pramuka SMP 1 Turi dalam kejadian bencana ini. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan pembina di sebuah media online yang mengatakan bahwa para pembina beserta ratusan siswa ini tidak mengantisipasi kejadian tersebut lantaran tak tahu jika di hulu Sungai Sempor tengah turun hujan lebat. Kepala Dusun Dukuh juga mengatakan di lokasi hanyutnya siswa semula memang dangkal. Namun, dia menduga para pembina tak paham jika di hulu sungai sedang hujan. Ketidakpahaman akan kondisi lingkungan untuk menghindari area sungai saat musim penghujan yang menyebabkan tragedi ini terjadi. Dalam hal ini, jika pengetahuan tentang mitigasi bencana yang dimiliki oleh pembina (yang dalam hal ini juga guru SMP 1 Turi) ini bagus maka kejadian mungkin bisa diminimalisir bahkan dihindari.
sumber: Kompas TV Website

Pentingnya Memahami Mitigasi Bencana bagi Guru di Indonesia

Apa yang menyebabkan mitigasi bencana ini penting? Mitigasi bencana ini mengidentifikasi berbagai ancaman, kerentanan, sumberdaya apa yang dimiliki, pengorganisasian dan peran/fungsi dari masing-masing instansi/pelaku. Sehingga, diharapkan saat terjadi kejadian bencana dapat dikurangi korban baik korban jiwa maupun kerusakan materiil/non materiil karena sudah teridentifikasinya ancaman, kerentanan, serta sumberdaya yang ada dan pembagian peran dan tugas yang jelas dari tiap-tiap sumberdaya yang ada. Dalam hal ini, mitigasi untuk mengenali ancaman banjir bandang di sungai saat musim penghujan adalah yang penting untuk diketahui para pembina Pramuka atau guru SMP 1 Turi. Sebuah penelitian mengatakan pendidikan dapat menjadi salah satu sarana yang efektif untuk mengurangi risiko bencana dengan memasukkan materi pelajaran tentang bencana alam sebagai pelajaran wajib bagi setiap siswa di semua tingkatan pendidikan, terutama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah risiko bencana seperti Turi. Kurikulum yang berbasis kearifan lokal, diharapkan dapat diterima dan dapat dengan mudah dipahami oleh siswa[4].

Itu untuk siswa, bagaimanakah dengan gurunya? Tentu siswa tidak dapat dilepaskan dari gurunya, dalam hal ini, selain siswa, guru juga perlu diberikan sebuah kurikulum untuk guru yang berisi tentang mengurangi risiko bencana sebelum memberikan materi pelajaran tentang bencana alam kepada siswanya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah (PR) untuk pihak-pihak terkait seperti sekolah, Kemendikbud, BNPB/BPBD serta mungkin lembaga perguruan tinggi di daerah-daerah yang rawan bencana alam. Tentunya kita tidak ingin generasi muda calon penerus harapan bangsa ini menjadi korban dalam bencana bukan? Dengan guru yang memahami mitigasi, kita bisa meningkatkan awareness terhadap lingkungan yang berpotensi untuk terjadi bencana dan meminimalisir korban jiwa dari anak-anak calon penerus harapan bangsa ini. Penulis berdoa semoga korban yang masih hilang segera diketemukan dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini

Penulis:

Eri Yanuar A B S., S.Kep., Ns., M.N.Sc.(I.C)
Alumni Master of Nursing Science (Intensive Care Nursing) The University of Adelaide Australia

Referensi:

1.Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Buku Pedoman Latihan Kesiapsiagaan Bencana: Membangun kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. 2018.
2.Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2015-2019. Jakarta BNPB. 2014;
3.Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Panduan Perencanaan Kontinjensi Menghadapi Bencana. Ed kedua Jakarta BNPB. 2011;
4.Suarmika PE, Utama EG. Pendidikan mitigasi bencana di Sekolah Dasar (sebuah kajian analisis etnopedagogi). JPDI (Jurnal Pendidik Dasar Indones. 2017;2(2):18–24.






Eri Yanuar

aku orangnya humoriezztttt,lucu,baek hati,suka menabung tp kalo marah, aku diem aja soale bingung. kalo kamu lg baca profileku maka kamu termasuk orang yang beruntung karna aku bingung mo ngisi apa di profile gw jd asal TULIS aja eh KAMUnya baca. KASIAN DECH LOEEEEE.............

  1. Alhamdulillah,,
    Bagus artikelnya Mas Eri.
    Tambah pengetahuan juga buat kota sebagai perawat.
    Two tumbs up. 👍👍

    BalasHapus