MASIGNALPHAS2101
6912188479656223598

Sebuah cerita pada suatu hari di musim hujan

Sebuah cerita pada suatu hari di musim hujan
Add Comments
Selasa, 01 Januari 2008

Jogja diguyur hujan lagi…… Sekarang lebih deras daripada yang kemarin. Hujan, hujan, hujan, sebuah kebesaran ALLOH yang kadang kita tidak sadari betapa bergunanya hujan. Hujan selain membawa air juga membawa berkah bagi daerah yang kekeringan, membawakan kehidupan bagi ikan, biota air, lumut dsb.

Ba’da maghrib aku mengetik artikel ini ditemani lagunya Utopia “Antara ada dan tiada”, lagu lama tapi masih aja asyik. Uppsss…. Melenceng dari topik. Sekarang kan kita mau ngomongin hujan.

Bagiku hujan sebuah berkah dan juga sebuah musibah. Setiap hujan datang aku bersyukur tetapi saat itu pula aku bersedih. Aku bersyukur karena hujan membahagiakan bagi tukang becak yang kadang laku saat hujan saja, taksi, andong di malioboro, serta penjual jas hujan, payung, dsb. Bagiku aku seneng karena bisa tidur dengan nyenyak… hehehe…

Sekarang mengalun lagunya The Groove “Satu Mimpiku”….Lhoh??? Maaph deh…

Sebuah kesedihan karena saat mengingat bencana banjir yang terjadi akhir-akhir ini yang sebenarnya akibat ulah manusia sendiri. Suka buang sampah sembarangan, tebang pohon seenaknya, pokoknya kebiasaan jelek yang bikin emosi lah. Aku sedih juga karena saat hujan, aku jadi sendu. Gak tahu kenapa. Aku seolah selalu mengingat kenangan-kenangan yang lalu. Apalagi jika di lantai yang atas plus deket jendela jadi tambah sendu deh…Aku inget kenangan tentang keluarga, mantan, sodara, teman, dan kenangan sendu lain yang cukup menyesakkan. (Lagu Alena mulai berputar “yang telah pergi”…)

Aku tak tahu kenapa ya… Hujan ini seolah membuat aku semakin sesak dengan cintaku saat ini dan diriku yang menyedihkan. Aku bingung?? Apa yang harus aku lakukan?? Bingung?? Dan masih saja bingung??

Aku senang berfikir filosofis, Seperti halnya hujan ini (lagu ajeng “jangan tinggalkan aku” mengalun. Kok lagu sedih2 semua sih? Perasaan dah tak shuffle semua lagu di kompie tapi kok pas lagu sedih yua pas ngetik artikel ini. Tau aah gelap…) ALLOH tidak pernah meminta hujan kembali tapi tetap saja Ia turunkan. Itulah cinta, memberi tanpa mengharapkan kembali bahasa mudahnya IKHLAS. Aku ingin bisa mencintai dengan IKHLAS tanpa mengharapkan apa-apa tapi kok sulit ya? Aku masih saja ingin memiliki walau aku sadar itu salah (lihat posting sebelumnya”mencintai adalah keikhlasan”) Jadinya aku sendiri bingung, di hati nurani aku tahu itu salah, tapi jiwa dan ragaku menginginkannya untuk sekedar jadi tempatku bersandar. Aku hanya butuh kenyamanan saja… Just it?? Seharusnya aku bisa menepis kebutuhan rasa akan cinta dari lawan jenis karena belum waktunya tapi aku terus bergejolak dan terus bergejolak (mana sekarang lagu Ribas “Sebelah hati” mengalun. Jadi makin sakit deh…) Aklu bingung apakah bertepuk sebelah tangan atau tidak cintaku ini? Statusku? Karena jika ditolak, tolak aja, jika diterima terima aja lebih mudah kan daripada begini. Aku jadi tidak tahu mau diapain cintaku?? Diberikan belum tentu mau, ditarik juga tidak rela?? Nah lho, semakin bingungkan? Aku yang nulis aja bingung, apalagi kamu yang baca?


Kebingungan tentang hati akan dijawab oleh hati. Semoga hati yang membaca tulisan ini bisa memberi jawaban pada hati”


_kamar_budaya_27_desember_2007

Di akhir tulisan ini, lagu once “aku mau” mengalun… :-(

Eri Yanuar

aku orangnya humoriezztttt,lucu,baek hati,suka menabung tp kalo marah, aku diem aja soale bingung. kalo kamu lg baca profileku maka kamu termasuk orang yang beruntung karna aku bingung mo ngisi apa di profile gw jd asal TULIS aja eh KAMUnya baca. KASIAN DECH LOEEEEE.............