Haloo…. Apa kabar buat para pembaca blogku? Semoga selalu diberikan kesehatan, waktu luang, serta kuota sehingga sempat baca tulisan di blogku ini yang ga penting wkwkwkwkwk….. Tulisan ini tulisan lama dan belum dipost karena sibuk nulis paper wkwkwkwk.....
Tulisanku kali ini akan bercerita tentang sebuah refleksi atau perenungan yang berasal dari rem motor dan sandal yang gundul. Sebelum kita masuk tulisan kali ini, jangan lupa buat bismillah dulu..
Bismillah…
Jadi, biasanya di bulan Ramadhan, seperti biasa asosiasi mahasiswa muslim di NCKU menjalankan buka puasa bersama. Tiap fakultas akan dapat jatah giliran buat piket dan menjadi panitia untuk buka puasa bersama. Hari Sabtu (28/02/2026) adalah jatah piket dari College of Medicine alias Fakultas Kedokteran. Nah, Nursing kan masuk dalam College of Medicine jadi aku ikut membantu di event ini. Tugasnya macem-macem tapi buatku sendiri, aku hanya membantu mengambil makanan alias pientang dari pengantar makanan ke mushola Sheng-Li 6. Nah, bulan-bulan ini, Tainan sedang banyak diguyur hujan, untungnya pas itu hujannya sudah agak reda. Namun, biasa sisa air hujan masih ada di beberapa bagian.
Nah, pas membawa makanan atau pientang ini, aku sempat melewati beberapa genangan air dan membuat sandalku menjadi basah. Pas lewat di satu area lantai, aku hampir terpeleset. Habis sholat, aku pulang dan lewat lantai yang lain, hampir terpeleset lagi. Akhirnya aku lihat bawah sandalku dan tampak sudah tidak ada “grip” atau pola dasar sandal alias beberapa bagian gundul. Akhirnya, aku ke NET (semacam nama toko baju di Taiwan) untuk membeli sandal baru.
Sebagai informasi, di Taiwan ini aku juga naik sepeda motor sebagai alat transportasi harian. Nah, pas di satu lampu merah, aku menekan rem sebelah kanan dan tidak ada reaksi alias remnya sudah agak blong. Untungnya, rem sebelah kiri masih berfungsi dengan baik. Dengan pertimbangan keselamatan, akhirnya motor aku bawa ke bengkel dan habisnya lumayan banyak karena pompa remnya rusak. Apalagi ini beasiswa juga belum tampak hilalnya wkwkwkwk….. Yah itulah namanya rejeki tidak bisa dimajukan atau dimundurkan.
Tapi dari dua kejadian diatas, aku berefleksi, seandainya aku tidak hampir terpeleset, aku tidak akan tahu kalau sandalku gundul. Kalau aku tidak hampir ngeblong, lampu merah, aku tidak akan tahu kalau remku tidak berfungsi. Dua pelajaran ini seolah memberikan sebuah pelajaran buatku pribadi, betapa pegangan alias grip serta rem adalah hal yang penting untuk mencegah dari celaka. Hal ini menjadi refleksi buatku dan aku mengambil kesimpulan kalau
“Seseorang sudah tidak ada pegangan dan rem atau pengendalian diri, maka dia akan beresiko celaka. Bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri”
Aku jadi berefleksi mengingat semua perjalanan hidupku, dimana malah orang-orang yang sayang dan peduli padaku itu menjadi pegangan dan rem. Mereka tidak selalu memuji, tapi mereka juga mengingatkan aku akan hal-hal yang tidak pas yang aku lakukan dulu. Aku juga baru sadar, bahkan ada beberapa orang yang tampaknya selalu memuji dan mendukung ternyata pujian dan dukungan mereka yang menjadikan aku lupa diri dan malah menjatuhkan ke dalam kesalahanku.
Aku jadi ingat satu pepatah lama,
“Nyamuk mati karena satu tepukan tangan”
Tidak semua orang yang selalu support dan memuji itu baik, kadang malah orang-orang yang memberitahu dan menasehati itu yang baik karena mereka tahu dan peduli padaku. Egoku sendiri yang terlalu keras sehingga aku sendiri yang jatuh ke dalam jurang kehancuranku. Jadi, saat ini, jika ada yang memberitahu, aku akan mencoba mencerna dan menerima masukan mereka.
Apakah dikritik itu tidak sakit?
Jujur, buat aku yang egonya besar, dikritik itu menyakitkan. Tapi, dihajar nasib buruk karena ego pribadi dan jatuh karena kesombongan diri itu jauh lebih menyakitkan.
Semoga Alloh selalu memberikan petunjuk serta mengirimkan sifat lapang dada saat kita dikritik oleh orang lain. Serta, kita selalu dikritik oleh orang-orang yang mau kita berkembang dan bukan yang hanya kritik omong kosong.
Oke, terimakasih ya sudah membaca tulisanku ini. Mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan ya….
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya…
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah, semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT.
Aamiin aamiin Ya Rabbal Alamin….
Tainan, 5 Maret 2026
Menunggu waktu sahur
Ditemani rintik hujan di luar sana
Posted by 

comment 0 komentar
more_vert