MASIGNALPHAS2101
6912188479656223598

Perenungan Saat Jumatan: Pekerja Migran dan Penerima Beasiswa Negara

Perenungan Saat Jumatan: Pekerja Migran dan Penerima Beasiswa Negara
Add Comments
Minggu, 01 Maret 2026



Assalamualaikum. Wr. Wb.

Apa kabar buat para pembaca blogku? Semoga selalu diberikan kelimpahan rejeki, kesehatan, waktu serta kuota sehingga selalu bisa baca tulisan di blogku ini. Aamiin aamiin Ya Rabb. Aku akui ngeblog ini butuh inspirasi dan juga menulis di blog itu tidak mudah. Kenapa? Karena jika ada salah kata atau terkesan menyinggung, takutnya akan jadi jejak digitalku juga kan? Makanya kalau nulis blog ini butuh dibaca 2-3 kali sebelum publish.

Tulisan kali ini muncul dari perenungan saat menjalankan sholat Jumat. Hari ini (28/2/2026), Taiwan sedang libur nasional. Saat libur nasional seperti ini, biasanya pabrik-pabrik libur sehingga para pekerja migran dari berbagi bagian kota Tainan bisa datang ke pusat kota untuk menjalankan sholat Jumat. Kalau libur begini, biasanya sholat Jumat diadakan di Taman Tainan (Tainan Park). Karena jamaahnya banyak, jadinya model sholatnya di lapangan, jadi kaya sholat Idul Fitri atau Idul Adha. Lho emangnya kalau hari biasa gimana? Kalau hari biasa, biasanya sholat Jumatnya di Mushola FKKBWIT Tainan atau bisa di NCKU. Kalau aku pribadi lebih sering ke FKKBWIT dengan alasan khutbahnya bahasa Indonesia jadi berasa Jumatan di Indonesia hehehehe….. sekalian jadi obat kangen Indonesia.

Nah, pas Jumatan ini agak mendung jadi Jumatannya agak syahdu (eaaaa…). Nah, kebetulan aku dapat barisan belakang karena agak siang datangnya. Seperti biasa layaknya orang Jumatan, ya ada khutbah, lalu sholat, lalu doa bareng. Pas doa inilah, aku merenung dan mendapat inspirasi tulisan ini. Jadi ada sesuatu yang terlintas di kepalaku saat melihat para pekerja migran ini. FYI, jadi pekerja migran itu jangan hanya dilihat gaji aja ya teman-teman. Banyak hal yang harus dialami oleh para pekerja migran ini. Mereka berangkat ke luar negeri tidak gratis, ada uang yang harus dibayarkan untuk pelatihan bahasa, nanti mereka akan potong gaji sampai lunas jika ditalangi oleh agen, lalu berhadapan dengan pungutan liar dan sebagainya. Uang yang mereka dapatkan akan dikirim untuk keluarganya di Indonesia.

“Pekerja migran ini mengirim uang negara lain ke Indonesia dan membantu perekonomian Indonesia.”

Di sisi lain, kemarin ada polemik seorang penerima beasiswa dari negara Indonesia malah menjelekkan negaranya sendiri di sosial media. Hal ini tentu menjadi disayangkan. Dia memakai uang pajak, membayar pendidikannya dan malah lupa diri. Bayangkan, negara membayar mahal untuk pendidikannya, dia memakai uang negara Indonesia dikirim ke negara lain. Pas sudah dapat gelar, eh malah merasa ga puas sama Indonesia dan malah menjelekkan. Kalau hanya tidak puas, mungkin tidak ada masalah, kita semua tentu tidak puas apalagi melihat semua berita yang ada di sosmed. Namun, apakah bijak jika menjelekkan negara sendiri?

Bandingkan dengan para pekerja migran, yang mungkin hanya SMP atau SMA. Berjuang mati-matian (bahkan ada yang mati beneran) demi mengirim uang negara lain ke keluarganya di Indonesia. Uang yang dikirim ini membantu perekonomian negara, menjadi devisa negara. Lalu, ada orang yang sekolah dibayarin negara, habisnya milyaran, pas sudah lulus, malah menjelekkan negaranya karena merasa negara lain lebih baik. Tentu rasanya bukan tidak bijak lagi, bahkan sampai level baik aja ga nyampe ini, jika menjelekkan negara sendiri, saat dia bisa sekolah ke LN karena dibayari negaranya.

Jadi, buat kamu yang menerima beasiswa dari negara Indonesia, please, jaga baik-baik sikap kalian. Kalian dapat amanah yang berat yaitu uang rakyat. Jangan merasa kalian bisa dapat beasiswa itu murni karena kerja keras kalian, ada faktor priviledge juga disana. Apa saja? Bisa jadi keluarga, pendidikan, intelegensi, gizi yang cukup, dan sebagainya. Sedangkan, bagi pekerja migran, mungkin tidak punya priviledge seperti kalian. Mereka harus berjuang demi pendidikan anaknya, demi keluarganya agar hidup layak.  Mereka meninggalkan keluarga jauh, ada yang mengorbankan pernikahannya, dan sebagainya. 

“Jadi, jangan sombong, ingat iblis dimasukkan neraka karena sombong. 
Jangan sampai dunia jadi neraka karena kesombongan kalian sendiri.”

Ini juga pengingat buat diri saya sendiri. 

Semoga saya bisa selalu menjadi pribadi yang lebih baik setidaknya dari diri saya sendiri kemarin.



Wassalamualaikum. Wr. Wb.


Tainan, 28 Februari 2026
Di antara rintik- rintik hujan dari luar kamar
Eri Yanuar

aku orangnya humoriezztttt,lucu,baek hati,suka menabung tp kalo marah, aku diem aja soale bingung. kalo kamu lg baca profileku maka kamu termasuk orang yang beruntung karna aku bingung mo ngisi apa di profile gw jd asal TULIS aja eh KAMUnya baca. KASIAN DECH LOEEEEE.............